Daur Ulang dalam Evolusi Bintang
Di dalam Al-Quran Allah telah
mengisyaratkan bahwa langit tercipta dari 'Dukhan', yaitu kabut. Allah
SWT berfirman:
"Kemudian Dia menuju kepada
penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata
kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku
dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami datang
dengan suka hati". [QS. Fuşşilat ayat 11]
Kini sudah di yakini tentang
kebenaran ayat itu berdasarkan pengamatas secara visual, inframerah ataupun
radio. Bintang-bintang lahir dari awan molekul, partikel-pertikel oleh gaya
gravitasi runtuh ke intinya menjadi inti bintang.
Akibat rotasi gumpalan awan molekul,
sebagian materi tidak jatuh ke intinya. Tetapi ke sekitar inti membentuk
piringan, inti bintang itu mulai memanas tetapi masih diselimuti awan dan debu
yang sangat dingin dibawah minus 200 derajat celcius.
Ibarat kepompong, inti bintang itu
tidak terlihat dari luar. Yang terlihat dan teramati hanyalah selimut debunya,
itupun hanya pancaran inframerah dan radio saja yang bisa terdeteksi.Hembusan
angin bintang lambat laun akan mengusir debu dan gas di sekitar bintang itu,
yang terasa adalah piringan debu dan gas di sekitar equatornya.
Piringan gas dan debu itu di yakini
sebagai cikal bakal planet. Dengan tersibaknya selimut debu, inti dari bintang
akan mulai teramati secara visual meski masih tampak redup.
Kini diketahui banyak bintang yang
masih memiliki piringan debu dan gas yang umurnya masih beberapa juta tahun.
Matahari kita tergolong bintang remaja yang baru berumur 4,5 miliyar tahun.
Inti yang semakin panas itu akhirnya
akan memunculkan reaksi fusi nuklir. Reaksi fusi nuklir inilah yang menjadi
energi bintang termasuk matahari hingga akhirnya bersinar.
Angin bintang dan tekanan radiasi,
pada akhirnya akan menyingkirkan debu-debu di piringan. Dan menyisakan
planet-planet yang terbentuk dan sedikit debu-debu antar-planet.
Akhirnya, bintang pun akan mati.
Akhir kehidupannya tergantung massa dan keadaan fisik bintang. Ada bintang yang
mengembang lalu melepaskan materi-materinya ke angkasa.
Ada pula yang meledak yang disebut
dengan supernova. Nah, materi-materi yang terlepas ke angkasa ini akan menjadi
bahan dasar pembentukan bintang baru.
Begitulah Allah SWT mendaur ulangkan
materi di alam ini.
Posisi Manusia di Alam Semesta
Bayangkanlah kita tinggal di planet
bumi ini dan bandingkanlah dengan keluasan alam semesta. Sungguh sebenarnya
kita ini kecil, manusia hanyalah makhluk yang sangat lemah di hadapan Allah
ta'ala.
Saat ini telah di yakini bahwa bumi
kita bukanlah pusat alam semesta seperti yang di yakini oleh orang-orang zaman
dulu, bumi kita hanyalah satu planet kecil di tata surya.
Empat planet raksasa, Jupiter,
Saturnus, Uranus dan Neptunus berukuran jauh lebih besar daripada planet kita.
Jupiter bermasa sekitar 300x massa bumi, tetapi matahari yang merupakan bintang
terdekat dan induk tata surya bermassa jauh lebih besar lagi, sekitar 300ribu
kali massa bumi dan berukuran lebih dari 1juta kali besar ukuran bumi.
Gaya gravitasinya mampu menahan semua
anggota tata surya yang terdiri dari sedikitnya 8 planet, 42 satelit, ratusan
ribu asteroid, miliyaran komet dan tak terhitung bongkahan batu, logam atau es
yang disebut dengan meteorit yang bertaburan di tata surya.
Sedangkan matahari hanyalah bintang
kuning yang berukuran sedang. Ribuan bintang lagi, bisa kita lihat di langit
yang di antaranya memiliki ukuran ratusan kali dari ukuran matahari.
Semuanya merupakan anggota yang
menghuni galaksi kita, bima sakti. Galaksi kita di golongkan sebagai galaksi
spiral, berbentuk seperti huruf S, dengan lengan tunggal atau majemuk.
Diameternya sekitar 100,000 tahun
cahaya yang artinya dari ujung ke ujung akan di tempuh oleh cahaya selama
100,000 tahun. Tata surya kita berjarak sekitar 30,000 tahun cahaya dari pusat
bima sakti dan mengorbit dengan kecepatan sekitar 200-300 km/s sekali dalam
200juta tahun.
Mungkin ada bintang yang ada di bima
sakti yang memiliki tata planet, namun karena jaraknya yang sangat jauh maka
sulit untuk menemukannya.
Dengan teropong besarpun bintang-bintang itu hanya akan terlihat seperti titik-titik cahaya. Jika kita menembus ke kedalaman langit lebih jauh lagi, mungkin kita akan menjumpai jutaan bahkan milyaran galaksi-galaksi lain.
Dengan teropong besarpun bintang-bintang itu hanya akan terlihat seperti titik-titik cahaya. Jika kita menembus ke kedalaman langit lebih jauh lagi, mungkin kita akan menjumpai jutaan bahkan milyaran galaksi-galaksi lain.
Galaksi-galaksi itu bagaikan
pulau-pulau yang saling berjauhan yang berpenghuni milyaran bintang pula.
Keluasan langit itu juga di jelaskan di dalam Al-Quran:
"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu." [QS. At-Talaq ayat 12]
"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu." [QS. At-Talaq ayat 12]
Tujuh langit bermakna benda-benda
langit yang tak terhitung banyaknya, sedangkan tujuh bumi mengisyaratkan bahwa
banyaknya planet lain di luar tata surya kita yang mungkin tedapat kehidupan.
Isyarat lebih nyata dapat kita jumpai
dalam surat berikut:
"Di antara (ayat-ayat) tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata Yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya." [QS. Ash-Shūraá ayat 29]
"Di antara (ayat-ayat) tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata Yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya." [QS. Ash-Shūraá ayat 29]
Usaha dalam mencari kehidupan di
planet lain pernah dilakukan khususnya dalam mencari makhluk-makhluk cerdas.
Beberapa pesawat antariksa seperti Apollo dan Venera di luncurkan untuk meneliti
dan mencari tahu kehidupan di luar bumi.
Pesawat antariksa lainnya adalah Voyager I dan II yang saat ini mulai berada di tepian galaksi bima sakti pun belum menemukan tanda-tanda kehidupan di luar bumi.
Pesawat antariksa lainnya adalah Voyager I dan II yang saat ini mulai berada di tepian galaksi bima sakti pun belum menemukan tanda-tanda kehidupan di luar bumi.
Mereka di bekali informasi tentang
posisi bumi, serta berbagai macam suara alam yang ada di bumi ini. Di harapkan
pesawat-pesawat tersebut dapat bertemu dengan makhluk cerdas yang mampu
menerjemahkan pesan tersebut.
Yang diharapkan nantinya akan ada peradaban lintas galaksi seperti imajinasi dalam film Star Trek, bukan lagi antar bangsa di bumi.
Yang diharapkan nantinya akan ada peradaban lintas galaksi seperti imajinasi dalam film Star Trek, bukan lagi antar bangsa di bumi.
ANamun hingga saat ini, wahana
tersebut belum ada yang dapat menemukan keberadaan makhluk cerdas lain.
Sehingga semua itu masih menjadi rahasia Allah SWT.






0 komentar:
Posting Komentar