Sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela kamar Nabila
seolah membangunkannya dari tidur yang lelap, setelah semalaman seusai
mengerjakan tugas sekolah hingga larut malam. Nabila segera bergegas
membereskan tempat tidurnya dan langsung menuju kekamar mandi. Dan setelah
memakai pakaian lengkap Nabila pun bergegas sarapan untuk pergi kesekolah.
Seperti biasanya di ruang makan hanya ada kak Nadhila dan bi
siti yang sedang menyiapkan sarapan, karna mama dan papa Nabila telah berangkat
lebih dahulu kekantor. Papa dan mama Nabila merupakan menejer di dua kantor
yang berbeda sehingga keduanya menjadi sangat sibuk dan bahkan sering keluar
kota.
“pagi kak” sahut Nabila dengan ceria kepada Nadhila, namun Nadhila
tak menghiraukannya bahkan sibuk bermain dengan handphonenya. Setelah sarapan
merekapun berangkat menuju kesekolah, Nadhila pergi dengan membawa mobilnya
sedangkan Nabila di antar oleh supir pribadi mereka yaitu mas bambang.
Nadhila merupakan kakak sekaligus saudara kembar dari Nabila.
Nadhila merupakan cewek yang cantik dan pintar dan memiliki IQ diatas rata-rata
sehingga papa pun memasukan kak Nadhila ke
salah satu SMA faforit di Jakarta sedangkan Nabila yang memiliki kecerdasan
pas-pasan bahkan dibawah rata-rata dimasukan oleh papa kesekolah yang bisa
dibilang sangat biasa.
Kring………!!! bel pun berbunyi, Nabila pun segera masuk
keruang kelas untuk mengikuti pelajaran. “pagi anak-anak” sapa bu Ranti dengan
hangat. “pagi bu” semua murid menjawab dengan serempak. Saat pelajaran sedang
dimulai tiba-tiba bu Ranti berdiri di depan bangku Nabila yang saat itu
ketahuan tidur didalam kelas, “Nabila bisa-bisanya kamu tidur di dalam kelas
sewaktu pelajaran sedang berlangsung” bentak bu ranti “maaf bu mungkin saya
kecapean” kata Nabila dengan suara pelan, “keluar kamu dari kelas dan berdiri
di depan tiang bendera” bentak bu ranti. Nabila pun keluar dan berdiri di depan
tiang bendera sampai waktu istirahat.
Sewaktu istirahat saat dikantin sekolah Nabila pun
bertabrakan dengan Anis kakak kelas Nabila hingga makanan anis megenai bajunya.
“lo kalau jalan pekek mata dong” bentak anis, “maaf kak bila ngak sengaja”
jawab Nabila sambil membersihkan baju kak anis yang kotor, “maaf-maaf lo kira
dengan maaf lo baju gue bisa bersih” bentak anis sambil mendorong Nabila hingga
terjatuh dan meninggalkannya pergi.
Hari yang sangat melelahkan akhirnya diakhiri Nabila setelah
bel sekolah berbunyi dan langsung pulang kerumah. Setibanya dirumah Nabila pun
menuju ruang makan yang di sana sudah berkumpul papa, mama dan Nadhila, “wah
enak ni makanannya” ketus Nabila sambil mencolek makanan diatas meja makan, “apaan sih kamu bila
baru nyampek udah ngak salam pakek nyolek-nyolek makanan gitu lagi ngakda
sopan-sopannya” sahut papa, “hargain papa dan mama yang ada di sini dong bil”
sambung Nadhila. Selera makan Nabila pun hilang karna telah di marahin papa dan
kak dhila hingga langsung masuk menuju kamarnya dan meninggalkan ruang makan.
Hari demi hari terus berganti, detik demi detik terus
berputar. Bunyi alaram seakan membangunkan Nabila dan menyuruhnya untuk
bergegas karna hari ini merupakan hari yang sanggat di tunggu-tunggu oleh Nabila.
Hari ini merupakan hari perlombaan menari yang akan di ikuti oleh Nabila, Nabila
merupakan siswa yang sangat ulet dalam menggerakkan tubuh karna sejak SD Nabila
telah di ajarkan menari oleh mamanya roni yang yang merupakan sahabat Nabila
sejak sd, namun semenjak SMA mereka berpisah karna papa Roni harus pindah
keluar kota hingga Nabila tidak dapat berlatih menari bersama mamanya Roni
namun bukan berarti Nabila sejak saat itu berhenti untuk latihan nari namun iya
terus berusaha untuk mengembangkan bakatnya itu dengan masuk kekelas seni disekolah,
hingga Nabila terpilih untuk mewakili sekolahnya dalam menggikuti perlombaan
tari tersebut.
Dan hari ini juga merupakan hari yang sanggat ditunggu oleh kak
Nadhila karna hari ini merupakan hari kak Nadhila berlomba dalam kegiatan
olimpiade sains. Kak Nadhila merupakan siswa yang memiliki banyak prestasi
mulai dari cabang olimpiade sains, seni bahkan sampai olahraga kak Nadhila
pernah menjuarainya yang di perolehnya sejak dari sd. Hingga papa membuat
sebuah ruanggan khusus yang menampung berbagai piala dan penghargaan yang
pernah di peroleh oleh kak Nadhila.
Seusai menggunakan pakaian Nabila langsung menjumpai papa
dan mama yang sedang di ruang keluarga, “pa, papa datangkan ke perlombaan Nabila?”
Tanya Nabila dengan bersemangat, ”maaf bil papa hari ini ada rapat di kantor
jadi ngak bisa datang” jawab papa, “mama gimana?” Tanya Nabila, “mama juga ngak
bisa datang karna mama udah duluan janji sama kak Nadhila untuk datang ke
perlombaannya”. Nabila merasa sanggat kecewa dengan jawaban papa dan mamanya, namun Nabila tetap sabar dan
berusaha kuat agar iya dapat membuktikan ke papa dan mama bahwa Nabila juga
bisa mendapat prestasi seperti kak Nadhila. Dan memang selama ini Nabila sangat
iri melihat Nadhila yang memiliki banyak prestasi dan sanggat berbanding
terbalik dengan dirinya namun iya tetap bangga karna memiliki kakak seperti Nadhila.
Setibanya waktu perlombaan Nabila yang memiliki nomor undian
5 sanggat deg-degan, iya takut tidak dapat menampilkan yang terbaik karna tidak
ada seorangpun dari papa dan mama yang menyemangati Nabila secara langsung,
namun dengan tekat memperoleh juara Nabila berusaha untuk tetap tenang karna
iya juga ingin membanggakan papa dan mama seperti kak Nadhila. Saat Nabila
selesai tampil semua penonton bertepuk tanggan karna Nabila yang tampil begitu
bagus dan memukau para juri yang ada, hingga saat penggumuman Nabila pun keluar
sebagai juara pertama. Dan dengan sanggat gembira Nabila yang memperoleh juara langsung
memboyong piala tersebut kerumah untuk di perlihatkan kepada papa, mama dan kak
Nadhila.
Saat di rumah Nabila yang sedang bergembira sanggat terkejut
karna diruang keluarga terlihat kak Nadhila yang sangat sedih bersama papa dan
mama.”pa lihat ni Nabila dapat juara” kata Nabila dengan gembira, “kamu kok
gitu sih bil kamu ngak lihat kakak mu ini lagi sedih karna dia kalah, eh kamu
masuk-masuk malah seneng-seneng seharusnya kamu ikutan sedih jugak karna kakakmu
ini kalah” jawab papa dengan sedikit kesal, “lagian kamu sih bil Cuma juara
sekali ini pun di banggain” sambung mama. Raut wajah Nabila yang mulanya senang
pun berganti seratus lapan puluh derajat karna perkataan papa dan mama, yang
seolah tak menghargai prestasi yang telah di raih oleh Nabila. Perjuangan yang
selama ini yang dilakukannya pun seolah lenyap oleh perkataan papa dan mama. Ia
pun langsung berlari ke kamar dan meratapi kesedihan yang di alaminya. “tuhan
kenapa harus bila? Kenapa bila ngak pernah di hargai di keluarga ini? Kenapa?
Apa salah bila? kenapa harus bila?” kata-kata yang terlontar dari mulut Nabila
sambil meneteskan air mata. Saat Nabila berdiam diri dikamar tidak ada
seorangpun yang peduli terhadap nasibnya bahkan hanya untuk menawari makanpun
tidak ada yang peduli, bila hanya diam dan terus meratapi kesedihannya.
Walaupun demikian ia tetap berusaha untuk menghibur hati Nadhila
yang mungkin lebih sedih dari dirinya. Nabila pun datang ke kamar Nadhila ”kak
maafin bila ya tadi udah senang-senang padahal kak lagi sedih” kata Nabila
sambil mendekati kak Nadhila, ”apaan sih kamu bil? Bilang aja kalau kamu tu
seneng lihat kakak gini? Ngaku aja deh kamu, kamu senang kan? Dan kamu kesini
buat ngetawain kakak kan?” Dengan suara yang keras sambil menangis, “ngak kok
kak Nabila juga sedih kalau lihat kakak gini terus”, sambung Nabila, “ bohong
kamu bil, keluar kamu dari kamar kakak” jawab Nadhila sambil mengusir adiknya
itu.
Sejak kejadian itu walaupun Nabila sangat sedih namun ia
tetap berusaha dan semangat untuk membangakan papa dan mama untuk mendapatkan
prestasi seperti kak Nadhila, ia pun terus bilajar dan bilajar dengan harapan
suatu hari nanti papa dan mama akan
sayang dan menghargai apapun yang di peroleh Nabila walaupun hal tersebut
sangat jauh di bandingkan dengan saudara kembarnya sendiri yaitu Nadhila.
Hari demi hari terus di lewati Nabila hanya untuk bilajar,
hingga besok merupakan hari pembagian hasil bilajar di sekolah, ia pun berusa
untuk mengajak mama dan papa untu mengambil hasil bilajarnya itu, “pa, besok
papa bisa datangkan untuk ngambil rapor bila?” Tanya bila, “maaf bil papa dan
mama udah keburu terima undangan di sekolahnya kakakmu dan di undangan itu
katanya harus kedua orang tuanya bil, jadi maafin papa dan mama ya” jawab papa,
“yaudah deh pa ngak papa juga kok” jawab bila dengan perasaan kecewa, “kamu
minta tolong sama bi siti aja buat ngambil rapor kamu” sambung mama, “yaudah
deh mama ntar bila suruh bi siti aja” jawab bila sambil meninggalkan papa dan
mama.
Esok harinya bila pun mengambil rapor bersama bi siti, dan
berharap hasil yang di perolehnya merupakan hasil terbaik yang sebanding dengan
perjuangan yang telah ia lakukan. Ketika bi siti keluar dari kelas Nabila, Nabilapun
langsung menjumpai bi siti, “gimana bi, hasil bilajar bila?” Tanya Nabila
dengan penuh semangat, “ selamat ya non, non Nabila dapat peringkat pertama di
kelas” jawab bi siti kepada Nabila, ”horee…. Akhirnya perjuangan Nabila selama
ini ngak sia-sia bi pasti papa dan mama bangga sama Nabilakan bi?”Tanya Nabila
dengan semangat, “pasti non, papa, mama dan non bila pasti bangga non” jawab bi
siti sambil tersenyum. “yaudah bi kita pulang sekarang aja yuk bi” sambil
menarik tengan bi siti menuju mobil mereka.
Sesampainya di rumah bila langsung ke ruang keluarga dan
ternya di sana telah berkumpul papa, mama dan kak Nadhila bahkan yang mengejutkan
lagi di sini telah ada Roni beserta papa dan mamanya. “pa lihat ni aku dapat
peringkat pertama dikelas” sambil menunjukkan hasil bilajarnya kepada papa,
“ngak usah papa lihat lah bil lagian kakak mu juga dapat peringkat pertama di
kelas” kata papa, “lagian kalau peringkat pertama dikelasmu palinggan peringkat
terakhir di kelaasnya kakakmu” sambung mama sambil tertawa bersama keluarga
roni. Nabila sangat sedih mendengar perkataan papa dan mama, seolah petir yang
menyambar dirinya disiang bolong dan langsung menuju kamarnya, perjuangan Nabila
selama ini seolah memang tidak pernah dihargai oleh papa dan mama padahal Nabila
hanya ingin di sayang dan dapat menjadi anak yang membanggakan papa dan mama
seperti kakaknya ditambah kali ini Roni dan keluarganya juga memertawakan
nasibnya tersebut, dan saat ini seolah tidak ada orang yang sanyang lagi
kepadanya, dan Nabilapun berpikir apakah dia merupakan anak dari papa dan mama,
ataukah hanya hanya anak buangan yang dipunggut oleh papa dan mama.
Bi siti pun datang menghampiri Nabila di kamarnya, “sabar ya
non, mungkin papa dan mama ngak maksud buat jatuhin semangatnya non bila” kata
bi siti sambil mengelus kepala Nabila, “ngak bi papa dan mama emang ngak pernah
sayang sama Nabila, apa salah bila bi? Apa bila bukan anak papa dan mama?” kata
Nabila sambil meneteskan air mata, “huss,,,jangan ngomog gitu non, papa dan
mama pasti sayang kok sama non bila, non bila kan juga anaknya papa dan mama”
jawab bi siti sambil memeluk Nabila, “makasih ya bi cuma bibi yang bisa ngertin
perasaan bila saat ini, makasih ya bi, Nabila sayang sama bibi”.
Saat Nabila dan bi siti sedang berbicara tiba-tiba terdengar
suara papa dan mama yang minta tolong. Nabila dan bi siti pun bergegas
menjumpai papa dan mama, dan ternyata kak Nadhila pingsan dan mungkin
penyakitnya mulai kambuh lagi. Papa dan mama pun langsung membawa kak Nabila
kerumah sakit.
Setibanya dirumah sakit dokter mengatakan bahwa ginjal kak Nadhila
benar-benar sudah rusak, dan setahu Nabila beberapa tahun yang lalu ginjal
kakaknya itu telah di angkat sebelah dan saat ini pun yang sebelah lagi telah
rusak yang di sebabkan penyakit gagal ginjal yang di alami kak Nadhila, dan
kata dokter harus ada yang mendonorkan ginjalnya untuk Nadhila secepat mungkin,
namun untuk menemukan pendonor yang cocok sangat lah sulit dan salah satu alternatifnya
yaitu saudara kembarnya sendiri.
Saat itu pun Nabila menjadi sasaran oleh orang-orang yang
menyayanggi kakaknya itu, “bila kamu harus berkorban tu buat kakak kamu, kamu
harus relain satu ginjal kamu buat Nadhila” kata roni yang saat itu juga iku
bersama keluarga Nabila, “ia bil emang nya kamu tega lihat kakak kamu gini”
sambung papa, namun saat itu Nabila malah meninggalkan mereka semua dan pulang
menuju rumahnya.
Nabila sangat sedih melihat kakaknya menderita sakit seperti
itu dan ia tidak ingin kehilanggan saudara kembarnya, hingga ia berpikir bahwa
selama ini ia hanya bisa membuat onar dan tidak bisa membanggakan papa dan mama
dan berbeda dengan kak Nadhila yang selalu mampu membuat papa dan mama tersenyum
dan bangga kepada kak Nadhila. Akhirnya Nabila pun kembali kerumah sakit dan
membulatkan tekat untuk mendonorkan ginjalnya itu kepada saudara kembarnya
bahkan bukannya sebagian namun keduanya, namun ia meminta agar saat ini
identitasnya di sembunyikan.
Kabar tersebutpun sampai ke telingga semua anggota keluarga Nabila,
“papa kecewa sama kamu bil, kamu ngak mau berkorban untuk saudara kembarmu
sendiri, untunglah ada pendonor yang rela berkorban secara cuma-cuma kepada kakakmu”,
saat itu pun Nabila hanya bisa terdiam karna ia tidak ingin di kasihani karna
telah rela berkorban untuk Nadhila.
Hari ini merupakan hari operasi akan dilakukan, sebelum itu Nabila
telah membuat sepucuk surat yang di titipkan kepada bi siti namun bi siti tidak
boleh membukannya, ia hanya berpesan agar surat tersebut di berikan kepada papa
dan mama saat kak Nadhila sadar.
Semua orang sangat deg-degan saat operasi di lakukan, semua
orang yang menyayangi Nadhila sangat berharap agar orang yang sangat di
sayanginya selamat. Akhirnya operasi pun telah berhasil di lakukan, papa dan
mama sangat senang dengan keberhasilan operasi tersebut.
Kesokan harinya pun Nadhila akhirnya sadar, “nyonya ini ada
surat yang dititipkan oleh non bila kepada nyonya” kata bi siti kepada mama Nabila,
“emangnya bila kemana bi?” kata mama penasaran, “entahlah nyonya, non bila
hanya menitipkan ini dan mengatakan agar di beri kepada nyonya saat non dhila
sedar” lanjut bi siti. Mama Nabila pun membuka surat tersebut dan membacanya
dengan suara yang sedikit kuat, “ saat mama membuka surat ini mungkin bila udah
ngak bersama kalian lagi, bila udah berada jauh di sana yang tempatnya berbeda
dengan papa, mama dan kak dhila. Gimana keadaan kak dhila ma? Udah sadarkan,
bila sangat sayang sama kak dhila dan
semoga pemberian bila itu bisa berguna bagi kak dhila dalam melanjutkan
cita-citanya dan bisa bangain papa dan mama terus. Mama tau ngak sebenarnya bila
sering iri lihat mama dengan kak dhila, mama selalu peluk kak dhila saat dia
sedih, mama selalu cium kak dhila sebelum dia tidur, dan banyak hal lain lagi
yang mama lakuin sama kak dhila yang buat bila iri ma, bila mungkin Cuma bisa
ngelihatin mama sambil meneteskan air mata dan berharap suatu saat nanti hal
itu mama lakuin ke bila, tapi yaudah lah mungkin bila juga ngak akan pernah
ngerasain lagi betapa hangatnya pelukan mama karna bila akan pergi jauh
ningalin kalian semua. Dan untuk papa semoga dengan kepergian bila ini bisa
buat papa senang karna ngak ada lagi anak yang buat ribut dan ngak sopan
dirumah. Asal kan mama dan papa tau bila sering nagis di kamar waktu malam
meratapi nasib bila yang sangat beda dengan kak dhila, bila selalu merindukan
kalian dalam setiap mimpi bila. Dan harapan bila semoga dengan kepergian bila
kalian bisa merinduka bila seperti bila merindukan mama, papa dan kak dhila di
tengah malam sambil meneteskan air mata. Mungkin Cuma itu yang bila bisa
sampein walaupun sebenarnya masih banyak
hal yang mau bila certain sama mama, papa dan kak dhila tapi yaudah lah
semuanya juga ngak da guna lagi karna bila udah pergi jauh ke sana menghadap
tuhan. Salam manis buat mama, papa dan kak dhila. Bila sayang kalian semua.”
Air mata mama, papa dan kak dhila pun menetes terhadap
pekataan bila itu dan mereka langsung menuju ruangan tempat pendonor ginjal
dhila itu, dan ternyata semuanya telah terlambat bila telah berpulang menghadap
tuhan dan telah dipindahka di ruang jenazah dan saat itu pun papa, mama dan kak
dhila melihat bila telah terbaring kaku diruang jenazah tersebut, semuanya
telah berakhir hanya penyesalan yang tinggal bersama mama, papa dan dhila.
Mereka hanya bisa menangis melihat pengorbanan Nabila dan menyesal telah
memperlakukan Nabila tidak adil selama ini.






Copas yak? Ceritanya pasaran sama kek di wattpad pada umumnya. Coba deh kamu buat cerita kamu sendiri.. Kembangin lagi... Yok semangattt
BalasHapus