Kamis, 15 September 2016

Cerpen Air Mata Untuk Nabila



Sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela kamar Nabila seolah membangunkannya dari tidur yang lelap, setelah semalaman seusai mengerjakan tugas sekolah hingga larut malam. Nabila segera bergegas membereskan tempat tidurnya dan langsung menuju kekamar mandi. Dan setelah memakai pakaian lengkap Nabila pun bergegas sarapan untuk pergi kesekolah.
Seperti biasanya di ruang makan hanya ada kak Nadhila dan bi siti yang sedang menyiapkan sarapan, karna mama dan papa Nabila telah berangkat lebih dahulu kekantor. Papa dan mama Nabila merupakan menejer di dua kantor yang berbeda sehingga keduanya menjadi sangat sibuk dan bahkan sering keluar kota.
“pagi kak” sahut Nabila dengan ceria kepada Nadhila, namun Nadhila tak menghiraukannya bahkan sibuk bermain dengan handphonenya. Setelah sarapan merekapun berangkat menuju kesekolah, Nadhila pergi dengan membawa mobilnya sedangkan Nabila di antar oleh supir pribadi mereka yaitu mas bambang.
Nadhila merupakan kakak sekaligus saudara kembar dari Nabila. Nadhila merupakan cewek yang cantik dan pintar dan memiliki IQ diatas rata-rata sehingga  papa pun memasukan kak Nadhila ke salah satu SMA faforit di Jakarta sedangkan Nabila yang memiliki kecerdasan pas-pasan bahkan dibawah rata-rata dimasukan oleh papa kesekolah yang bisa dibilang sangat biasa.
Kring………!!! bel pun berbunyi, Nabila pun segera masuk keruang kelas untuk mengikuti pelajaran. “pagi anak-anak” sapa bu Ranti dengan hangat. “pagi bu” semua murid menjawab dengan serempak. Saat pelajaran sedang dimulai tiba-tiba bu Ranti berdiri di depan bangku Nabila yang saat itu ketahuan tidur didalam kelas, “Nabila bisa-bisanya kamu tidur di dalam kelas sewaktu pelajaran sedang berlangsung” bentak bu ranti “maaf bu mungkin saya kecapean” kata Nabila dengan suara pelan, “keluar kamu dari kelas dan berdiri di depan tiang bendera” bentak bu ranti. Nabila pun keluar dan berdiri di depan tiang bendera sampai waktu istirahat.
Sewaktu istirahat saat dikantin sekolah Nabila pun bertabrakan dengan Anis kakak kelas Nabila hingga makanan anis megenai bajunya. “lo kalau jalan pekek mata dong” bentak anis, “maaf kak bila ngak sengaja” jawab Nabila sambil membersihkan baju kak anis yang kotor, “maaf-maaf lo kira dengan maaf lo baju gue bisa bersih” bentak anis sambil mendorong Nabila hingga terjatuh dan meninggalkannya pergi.
Hari yang sangat melelahkan akhirnya diakhiri Nabila setelah bel sekolah berbunyi dan langsung pulang kerumah. Setibanya dirumah Nabila pun menuju ruang makan yang di sana sudah berkumpul papa, mama dan Nadhila, “wah enak ni makanannya” ketus Nabila sambil mencolek  makanan diatas meja makan, “apaan sih kamu bila baru nyampek udah ngak salam pakek nyolek-nyolek makanan gitu lagi ngakda sopan-sopannya” sahut papa, “hargain papa dan mama yang ada di sini dong bil” sambung Nadhila. Selera makan Nabila pun hilang karna telah di marahin papa dan kak dhila hingga langsung masuk menuju kamarnya dan meninggalkan ruang makan.
Hari demi hari terus berganti, detik demi detik terus berputar. Bunyi alaram seakan membangunkan Nabila dan menyuruhnya untuk bergegas karna hari ini merupakan hari yang sanggat di tunggu-tunggu oleh Nabila. Hari ini merupakan hari perlombaan menari yang akan di ikuti oleh Nabila, Nabila merupakan siswa yang sangat ulet dalam menggerakkan tubuh karna sejak SD Nabila telah di ajarkan menari oleh mamanya roni yang yang merupakan sahabat Nabila sejak sd, namun semenjak SMA mereka berpisah karna papa Roni harus pindah keluar kota hingga Nabila tidak dapat berlatih menari bersama mamanya Roni namun bukan berarti Nabila sejak saat itu berhenti untuk latihan nari namun iya terus berusaha untuk mengembangkan bakatnya itu dengan masuk kekelas seni disekolah, hingga Nabila terpilih untuk mewakili sekolahnya dalam menggikuti perlombaan tari tersebut.
Dan hari ini juga merupakan hari yang sanggat ditunggu oleh kak Nadhila karna hari ini merupakan hari kak Nadhila berlomba dalam kegiatan olimpiade sains. Kak Nadhila merupakan siswa yang memiliki banyak prestasi mulai dari cabang olimpiade sains, seni bahkan sampai olahraga kak Nadhila pernah menjuarainya yang di perolehnya sejak dari sd. Hingga papa membuat sebuah ruanggan khusus yang menampung berbagai piala dan penghargaan yang pernah di peroleh oleh kak Nadhila.
Seusai menggunakan pakaian Nabila langsung menjumpai papa dan mama yang sedang di ruang keluarga, “pa, papa datangkan ke perlombaan Nabila?” Tanya Nabila dengan bersemangat, ”maaf bil papa hari ini ada rapat di kantor jadi ngak bisa datang” jawab papa, “mama gimana?” Tanya Nabila, “mama juga ngak bisa datang karna mama udah duluan janji sama kak Nadhila untuk datang ke perlombaannya”. Nabila merasa sanggat kecewa dengan jawaban papa  dan mamanya, namun Nabila tetap sabar dan berusaha kuat agar iya dapat membuktikan ke papa dan mama bahwa Nabila juga bisa mendapat prestasi seperti kak Nadhila. Dan memang selama ini Nabila sangat iri melihat Nadhila yang memiliki banyak prestasi dan sanggat berbanding terbalik dengan dirinya namun iya tetap bangga karna memiliki kakak seperti Nadhila.
Setibanya waktu perlombaan Nabila yang memiliki nomor undian 5 sanggat deg-degan, iya takut tidak dapat menampilkan yang terbaik karna tidak ada seorangpun dari papa dan mama yang menyemangati Nabila secara langsung, namun dengan tekat memperoleh juara Nabila berusaha untuk tetap tenang karna iya juga ingin membanggakan papa dan mama seperti kak Nadhila. Saat Nabila selesai tampil semua penonton bertepuk tanggan karna Nabila yang tampil begitu bagus dan memukau para juri yang ada, hingga saat penggumuman Nabila pun keluar sebagai juara pertama. Dan dengan sanggat gembira Nabila yang memperoleh juara langsung memboyong piala tersebut kerumah untuk di perlihatkan kepada papa, mama dan kak Nadhila.
Saat di rumah Nabila yang sedang bergembira sanggat terkejut karna diruang keluarga terlihat kak Nadhila yang sangat sedih bersama papa dan mama.”pa lihat ni Nabila dapat juara” kata Nabila dengan gembira, “kamu kok gitu sih bil kamu ngak lihat kakak mu ini lagi sedih karna dia kalah, eh kamu masuk-masuk malah seneng-seneng seharusnya kamu ikutan sedih jugak karna kakakmu ini kalah” jawab papa dengan sedikit kesal, “lagian kamu sih bil Cuma juara sekali ini pun di banggain” sambung mama. Raut wajah Nabila yang mulanya senang pun berganti seratus lapan puluh derajat karna perkataan papa dan mama, yang seolah tak menghargai prestasi yang telah di raih oleh Nabila. Perjuangan yang selama ini yang dilakukannya pun seolah lenyap oleh perkataan papa dan mama. Ia pun langsung berlari ke kamar dan meratapi kesedihan yang di alaminya. “tuhan kenapa harus bila? Kenapa bila ngak pernah di hargai di keluarga ini? Kenapa? Apa salah bila? kenapa harus bila?” kata-kata yang terlontar dari mulut Nabila sambil meneteskan air mata. Saat Nabila berdiam diri dikamar tidak ada seorangpun yang peduli terhadap nasibnya bahkan hanya untuk menawari makanpun tidak ada yang peduli, bila hanya diam dan terus meratapi kesedihannya.
Walaupun demikian ia tetap berusaha untuk menghibur hati Nadhila yang mungkin lebih sedih dari dirinya. Nabila pun datang ke kamar Nadhila ”kak maafin bila ya tadi udah senang-senang padahal kak lagi sedih” kata Nabila sambil mendekati kak Nadhila, ”apaan sih kamu bil? Bilang aja kalau kamu tu seneng lihat kakak gini? Ngaku aja deh kamu, kamu senang kan? Dan kamu kesini buat ngetawain kakak kan?” Dengan suara yang keras sambil menangis, “ngak kok kak Nabila juga sedih kalau lihat kakak gini terus”, sambung Nabila, “ bohong kamu bil, keluar kamu dari kamar kakak” jawab Nadhila sambil mengusir adiknya itu.
Sejak kejadian itu walaupun Nabila sangat sedih namun ia tetap berusaha dan semangat untuk membangakan papa dan mama untuk mendapatkan prestasi seperti kak Nadhila, ia pun terus bilajar dan bilajar dengan harapan suatu hari  nanti papa dan mama akan sayang dan menghargai apapun yang di peroleh Nabila walaupun hal tersebut sangat jauh di bandingkan dengan saudara kembarnya sendiri yaitu Nadhila.
Hari demi hari terus di lewati Nabila hanya untuk bilajar, hingga besok merupakan hari pembagian hasil bilajar di sekolah, ia pun berusa untuk mengajak mama dan papa untu mengambil hasil bilajarnya itu, “pa, besok papa bisa datangkan untuk ngambil rapor bila?” Tanya bila, “maaf bil papa dan mama udah keburu terima undangan di sekolahnya kakakmu dan di undangan itu katanya harus kedua orang tuanya bil, jadi maafin papa dan mama ya” jawab papa, “yaudah deh pa ngak papa juga kok” jawab bila dengan perasaan kecewa, “kamu minta tolong sama bi siti aja buat ngambil rapor kamu” sambung mama, “yaudah deh mama ntar bila suruh bi siti aja” jawab bila sambil meninggalkan papa dan mama.
Esok harinya bila pun mengambil rapor bersama bi siti, dan berharap hasil yang di perolehnya merupakan hasil terbaik yang sebanding dengan perjuangan yang telah ia lakukan. Ketika bi siti keluar dari kelas Nabila, Nabilapun langsung menjumpai bi siti, “gimana bi, hasil bilajar bila?” Tanya Nabila dengan penuh semangat, “ selamat ya non, non Nabila dapat peringkat pertama di kelas” jawab bi siti kepada Nabila, ”horee…. Akhirnya perjuangan Nabila selama ini ngak sia-sia bi pasti papa dan mama bangga sama Nabilakan bi?”Tanya Nabila dengan semangat, “pasti non, papa, mama dan non bila pasti bangga non” jawab bi siti sambil tersenyum. “yaudah bi kita pulang sekarang aja yuk bi” sambil menarik tengan bi siti menuju mobil mereka.
Sesampainya di rumah bila langsung ke ruang keluarga dan ternya di sana telah berkumpul papa, mama dan kak Nadhila bahkan yang mengejutkan lagi di sini telah ada Roni beserta papa dan mamanya. “pa lihat ni aku dapat peringkat pertama dikelas” sambil menunjukkan hasil bilajarnya kepada papa, “ngak usah papa lihat lah bil lagian kakak mu juga dapat peringkat pertama di kelas” kata papa, “lagian kalau peringkat pertama dikelasmu palinggan peringkat terakhir di kelaasnya kakakmu” sambung mama sambil tertawa bersama keluarga roni. Nabila sangat sedih mendengar perkataan papa dan mama, seolah petir yang menyambar dirinya disiang bolong dan langsung menuju kamarnya, perjuangan Nabila selama ini seolah memang tidak pernah dihargai oleh papa dan mama padahal Nabila hanya ingin di sayang dan dapat menjadi anak yang membanggakan papa dan mama seperti kakaknya ditambah kali ini Roni dan keluarganya juga memertawakan nasibnya tersebut, dan saat ini seolah tidak ada orang yang sanyang lagi kepadanya, dan Nabilapun berpikir apakah dia merupakan anak dari papa dan mama, ataukah hanya hanya anak buangan yang dipunggut oleh papa dan mama.
Bi siti pun datang menghampiri Nabila di kamarnya, “sabar ya non, mungkin papa dan mama ngak maksud buat jatuhin semangatnya non bila” kata bi siti sambil mengelus kepala Nabila, “ngak bi papa dan mama emang ngak pernah sayang sama Nabila, apa salah bila bi? Apa bila bukan anak papa dan mama?” kata Nabila sambil meneteskan air mata, “huss,,,jangan ngomog gitu non, papa dan mama pasti sayang kok sama non bila, non bila kan juga anaknya papa dan mama” jawab bi siti sambil memeluk Nabila, “makasih ya bi cuma bibi yang bisa ngertin perasaan bila saat ini, makasih ya bi, Nabila sayang sama bibi”.
Saat Nabila dan bi siti sedang berbicara tiba-tiba terdengar suara papa dan mama yang minta tolong. Nabila dan bi siti pun bergegas menjumpai papa dan mama, dan ternyata kak Nadhila pingsan dan mungkin penyakitnya mulai kambuh lagi. Papa dan mama pun langsung membawa kak Nabila kerumah sakit.
Setibanya dirumah sakit dokter mengatakan bahwa ginjal kak Nadhila benar-benar sudah rusak, dan setahu Nabila beberapa tahun yang lalu ginjal kakaknya itu telah di angkat sebelah dan saat ini pun yang sebelah lagi telah rusak yang di sebabkan penyakit gagal ginjal yang di alami kak Nadhila, dan kata dokter harus ada yang mendonorkan ginjalnya untuk Nadhila secepat mungkin, namun untuk menemukan pendonor yang cocok sangat lah sulit dan salah satu alternatifnya yaitu saudara kembarnya sendiri.
Saat itu pun Nabila menjadi sasaran oleh orang-orang yang menyayanggi kakaknya itu, “bila kamu harus berkorban tu buat kakak kamu, kamu harus relain satu ginjal kamu buat Nadhila” kata roni yang saat itu juga iku bersama keluarga Nabila, “ia bil emang nya kamu tega lihat kakak kamu gini” sambung papa, namun saat itu Nabila malah meninggalkan mereka semua dan pulang menuju rumahnya.
Nabila sangat sedih melihat kakaknya menderita sakit seperti itu dan ia tidak ingin kehilanggan saudara kembarnya, hingga ia berpikir bahwa selama ini ia hanya bisa membuat onar dan tidak bisa membanggakan papa dan mama dan berbeda dengan kak Nadhila yang selalu mampu membuat papa dan mama tersenyum dan bangga kepada kak Nadhila. Akhirnya Nabila pun kembali kerumah sakit dan membulatkan tekat untuk mendonorkan ginjalnya itu kepada saudara kembarnya bahkan bukannya sebagian namun keduanya, namun ia meminta agar saat ini identitasnya di sembunyikan.
Kabar tersebutpun sampai ke telingga semua anggota keluarga Nabila, “papa kecewa sama kamu bil, kamu ngak mau berkorban untuk saudara kembarmu sendiri, untunglah ada pendonor yang rela berkorban secara cuma-cuma kepada kakakmu”, saat itu pun Nabila hanya bisa terdiam karna ia tidak ingin di kasihani karna telah rela berkorban untuk Nadhila.
Hari ini merupakan hari operasi akan dilakukan, sebelum itu Nabila telah membuat sepucuk surat yang di titipkan kepada bi siti namun bi siti tidak boleh membukannya, ia hanya berpesan agar surat tersebut di berikan kepada papa dan mama saat kak Nadhila sadar.
Semua orang sangat deg-degan saat operasi di lakukan, semua orang yang menyayangi Nadhila sangat berharap agar orang yang sangat di sayanginya selamat. Akhirnya operasi pun telah berhasil di lakukan, papa dan mama sangat senang dengan keberhasilan operasi tersebut.
Kesokan harinya pun Nadhila akhirnya sadar, “nyonya ini ada surat yang dititipkan oleh non bila kepada nyonya” kata bi siti kepada mama Nabila, “emangnya bila kemana bi?” kata mama penasaran, “entahlah nyonya, non bila hanya menitipkan ini dan mengatakan agar di beri kepada nyonya saat non dhila sedar” lanjut bi siti. Mama Nabila pun membuka surat tersebut dan membacanya dengan suara yang sedikit kuat, “ saat mama membuka surat ini mungkin bila udah ngak bersama kalian lagi, bila udah berada jauh di sana yang tempatnya berbeda dengan papa, mama dan kak dhila. Gimana keadaan kak dhila ma? Udah sadarkan, bila sangat sayang sama  kak dhila dan semoga pemberian bila itu bisa berguna bagi kak dhila dalam melanjutkan cita-citanya dan bisa bangain papa dan mama terus. Mama tau ngak sebenarnya bila sering iri lihat mama dengan kak dhila, mama selalu peluk kak dhila saat dia sedih, mama selalu cium kak dhila sebelum dia tidur, dan banyak hal lain lagi yang mama lakuin sama kak dhila yang buat bila iri ma, bila mungkin Cuma bisa ngelihatin mama sambil meneteskan air mata dan berharap suatu saat nanti hal itu mama lakuin ke bila, tapi yaudah lah mungkin bila juga ngak akan pernah ngerasain lagi betapa hangatnya pelukan mama karna bila akan pergi jauh ningalin kalian semua. Dan untuk papa semoga dengan kepergian bila ini bisa buat papa senang karna ngak ada lagi anak yang buat ribut dan ngak sopan dirumah. Asal kan mama dan papa tau bila sering nagis di kamar waktu malam meratapi nasib bila yang sangat beda dengan kak dhila, bila selalu merindukan kalian dalam setiap mimpi bila. Dan harapan bila semoga dengan kepergian bila kalian bisa merinduka bila seperti bila merindukan mama, papa dan kak dhila di tengah malam sambil meneteskan air mata. Mungkin Cuma itu yang bila bisa sampein  walaupun sebenarnya masih banyak hal yang mau bila certain sama mama, papa dan kak dhila tapi yaudah lah semuanya juga ngak da guna lagi karna bila udah pergi jauh ke sana menghadap tuhan. Salam manis buat mama, papa dan kak dhila. Bila sayang kalian semua.”
Air mata mama, papa dan kak dhila pun menetes terhadap pekataan bila itu dan mereka langsung menuju ruangan tempat pendonor ginjal dhila itu, dan ternyata semuanya telah terlambat bila telah berpulang menghadap tuhan dan telah dipindahka di ruang jenazah dan saat itu pun papa, mama dan kak dhila melihat bila telah terbaring kaku diruang jenazah tersebut, semuanya telah berakhir hanya penyesalan yang tinggal bersama mama, papa dan dhila. Mereka hanya bisa menangis melihat pengorbanan Nabila dan menyesal telah memperlakukan Nabila tidak adil selama ini.





Share:

1 komentar:

  1. Copas yak? Ceritanya pasaran sama kek di wattpad pada umumnya. Coba deh kamu buat cerita kamu sendiri.. Kembangin lagi... Yok semangattt

    BalasHapus

Blogroll

mp3

Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

mp3

Recent Posts

Unordered List

Pages

Theme Support

Blogger templates